Jumat, 20 Oktober 2017

Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari


Asal usul Ken Arok tidak jelas. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak seorang wanita tani dari Desa Pangkur (sebelah timur Gunung Kawi). Para ahli sejarah menduga ayah Ken Arok seorang pejabat kerajaan, mengingat wawasan berpikir, ambisi, dan strateginya cukup tinggi. Hal itu jarang dimiliki oleh seorang petani biasa. Banyak kisah yang menyebutkan bahwa Ken Arok ketika muda menjadi pencuri dan perampok. Berkat pengarahan dan bantuan Pendeta Lohgawe, Ken Arok bersedia mengabdikan diri kepada Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Ken Arok setelah mengabdi di Tumapel ingin menduduki jabatan akuwu dan sekaligus memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Dengan menggunakan tipu muslihat yang jitu, Ken Arok dapat membunuh Tunggul Ametung. Setelah itu, Ken Arok mengangkat dirinya menjadi akuwu di Tumapel dan memperistri Ken Dedes yang saat itu telah mengandung. Ken Arok kemudian mengumumkan bahwa dia adalah penjelmaan Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Hal itu dimaksudkan agar Ken Arok dapat diterima secara sah oleh rakyat sebagai seorang pemimpin.

A. Kehidupan Politik

Tumapel pada waktu itu menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok ingin memberontak, tetapi menunggu saat yang tepat. Pada tahun 1222 datanglah beberapa pendeta dari Kediri untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok karena tindakan yang sewenang-wenang dari Raja Kertajaya. Ken Arok menerima dengan senang hati dan mulailah menyusun barisan, menggembleng para prajurit, dan melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk memberontak Kerajaan Kediri.

Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah sejumlah besar prajurit Tumapel menuju Kediri. Di daerah Ganter terjadilah peperangan dahsyat. Semua prajurit Kediri beserta rajanya dapat dibinasakan. Ken Arok disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Tumapel dan Kediri. Selanjutnya, Ken Arok dinobatkan menjadi raja. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri disatukan dengan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singasari. Pusat kerajaan dipindahkan ke bagian timur, di sebelah Gunung Arjuna.

Setelah naik takhta, Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhattara Sang Amurwabhumi. Dialah pendiri Dinasti Rajasa atau Girindrawangsa. Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun, yaitu tahun 1222–1227. Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh seorang pengalasan atas perintah Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Ken Arok didharmakan di Kagenengan.

Sepeninggal Ken Arok, Anusapati menjadi Raja Singasari. Anusapati memerintah pada tahun 1227–1248. Pada masa pemerintahannya tidak banyak hal yang dapat diketahui.

Ken Arok dengan selirnya yang bernama Ken Umang mempunyai empat orang putra, yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudhartu, Panji Wregola, dan Dewi Rambi. Akhirnya, Tohjaya mengetahui bahwa yang membunuh Ken Arok adalah Anusapati. Oleh karena itu, Tohjaya ingin membalas dendam kematian ayahnya.

Pada tahun 1248, Anusapati berhasil dibunuh. Anusapati setelah wafat didharmakan di Candi Kidal. Pada tahun 1248 itu juga Panji Tohjaya naik takhta. Baru beberapa bulan memerintah, Tohjaya dibunuh oleh Ranggawuni, putra Anusapati, di Katang Lumbang. Setelah itu, Ranggawuni menjadi raja dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Dalam masa pemerintahannya, Wisnuwardhana didampingi oleh Mahesa Campaka, anak Mahesa Wongateleng. Mahesa Wongateleng adalah anak Ken Dedes dengan Ken Arok.

Wisnuwardhana memerintah tahun 1248–1268. Selama masa pemerintahannya keadaan negara aman dan tenteram. Pada tahun 1264 Wisnuwardhana mengeluarkan sebuah prasasti dan mendirikan benteng di Canggu Lor. Raja Wisnuwardhana meninggal pada tahun 1268 dan didharmakan di Weleri sebagai Syiwa dan di Jayaghu (Candi Jago) sebagai Buddha Amoghapasa.

Tidak lama kemudian, Mahesa Campaka juga mangkat. Mahesa Campaka mempunyai seorang anak, yaitu Lembu Tal. Lembu Tal mempunyai anak bernama Wijaya yang nantinya mendirikan Kerajaan Majapahit.

Kertanegara terkenal dengan gagasannya yang tinggi, yaitu ingin memperluas daerah kekuasaannya hingga meliputi seluruh pulau-pulau di wilayah Nusantara. Seluruh Nusantara akan disatukan di bawah panji-panji kebesaran Singasari.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kertanegara melakukan usaha sebagai berikut :

1. Penataan di Dalam Negeri

Penataan di dalam negeri yang dilakukan Kertanegara untuk mewujudkan cita-citanya, antara lain sebagai berikut :
  1. Untuk memperlancar pemerintahannya, Kertanegara dibantu oleh tiga orang mahamenteri dengan pangkat i hino, i sirikan, dan i halu. Tugas mereka adalah mengatur dan meneruskan perintah raja melalui tiga menteri pelaksana dengan pangkat rakryan apatih, rakryan demung, dan rakryan kanuruhan.
  2. Mahapatih Raganatha digantikan oleh Aragani karena dipandang kurang mendukung gagasan raja. Agar tidak kecewa, Raganatha diangkat menjadi adhyaka (wakil raja) di Tumapel.
  3. Banyak Wide yang dianggap masih mempunyai hubungan erat dengan Kediri diasingkan dan diangkat menjadi Bupati Sumenep (Madura) dengan gelar Arya Wiraraja.
  4.  Angkatan perang, baik prajurit darat maupun armada laut diperkuat persenjataannya.
  5. Pemberontakan yang terjadi di dalam negeri ditumpas, misalnya pemberontakan Bhayaraja (1270) dan pemberontakan Mahesa Rangkah (1280).
  6. Lawan politiknya diajak bekerja sama, misalnya Jayakatwang, keturunan Raja Kediri, diangkat menjadi raja kecil di Kediri. Bahkan, putranya Ardharaja dijadikan menantu.
  7.  Raden Wijaya, keturunan Mahesa Campaka juga dijadikan menantu.
  8. Untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari para pemuka agama, diangkatlah seorang pemimpin agama Buddha dan seorang pendeta mahabrahma untuk mendampingi raja.
2. Ekspansi ke Luar Negeri

Untuk mendukung terwujudnya cita-cita, Kertanegara melakukan tindakan ekspansi ke luar negeri sebagai berikut : 

  1. Setelah armada lautnya kuat, Kertanegara mulai melebarkan kekuasaan ke luar Jawa. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirimkan ekspedisi ke Melayu (Pamalayu) untuk menghidupkan lagi Kerajaan Melayu (di Jambi) agar dapat menyaingi dan melemahkan Kerajaan Sriwijaya.  Hal itu sebenarnya dimaksudkan untuk mencegah atau menahan gerakan ekspansi prajurit Mongol di bawah pimpinan Kaisar Kubhilai Khan. 
  2. Pada tahun 1284 Kertanegara mengirimkan ekspedisi ke Bali dan berhasil menanamkan pengaruh dan kekuasaannya di sana. 
  3. Pada tahun 1286 Kertanegara mengirimkan sebuah Patung Amoghapasa beserta 14 pengiringnya kepada Raja Melayu, yaitu Mauliwarmadewa. Hal itu dimaksudkan untuk mempererat dan memperkuat pertahanan Singasari– Melayu. 
  4. Pada tahun 1289 Jawa Barat berhasil ditundukkan, menyusul Pahang di Malaya dan Tanjungpura di Kalimantan yang berhasil dikuasai. Daerah itu sangat strategis untuk menghadang ekspansi tentara Mongol.
  5. Menjalin persahabatan dengan raja-raja di Semenanjung Malaka dan Indocina dengan cara menikahkan putri Kertanegara dengan raja di Indocina. Dengan cara itu, kukuhlah persahabatan Singasari–Indocina.

B. Kehidupan Sosial Budaya

Peninggalan kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain berupa prasasti, candi, dan patung. Candi peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Candi Jago, Candi Kidal, dan Candi Singasari. Adapun patung-patung yang berhasil ditemukan sebagai hasil kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang dewi kesuburan dan Patung Kertanegara sebagai Amoghapasa.

Rakyat Singasari mengalami pasang surut kehidupan sejak zaman Ken Arok sampai masa pemerintahan Wisnuwardhana. Pada masa-masa pemerintahan Ken Arok, kehidupan sosial masyarakat sangat terjamin. Kemakmuran dan keteraturan kehidupan sosial masyarakat Singasari kemungkinan yang menyebabkan para brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok atas kekejaman rajanya.

Akan tetapi, pada masa pemerintahan Anusapati kehidupan masyarakat mulai terabaikan. Hal itu disebabkan raja sangat gemar menyabung ayam hingga melupakan pembangunan kerajaan.

Keadaan rakyat Singasari mulai berangsur-angsur membaik setelah Wisnuwardhana naik takhta Singasari. Kemakmuran makin dapat dirasakan rakyat Singasari setelah Kertanegara menjadi raja. Pada masa pemerintahan Kertanegara, kerajaan dibangun dengan baik. Dengan demikian, rakyat dapat hidup aman dan sejahtera.

Dengan kerja keras dan usaha yang tidak henti-henti, cita-cita Kertanegara ingin menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari tercapai juga walaupun belum sempurna. Daerah kekuasaannya, meliputi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Sebagai ahli agama, Kertanegara tetap mengkhawatirkan daya sakti pemecah Empu Bharada pada zaman Airlangga. Untuk menangkis daya sakti pemecah itu, Kertanegara mendirikan patung perwujudan dirinya sebagai Dhyani Buddha di tempat tinggal Empu Bharada (di Wurare). Patung itu sampai sekarang masih dapat dilihat di Surabaya dan lazim disebut sebagai Patung Joko Dolok.

Bersamaan dengan usaha Kertanegara untuk memperluas daerah kekuasaan, Kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh Kubhilai Khan juga sedang melakukan ekspansi ke arah selatan, yaitu ke kawasan Asia Tenggara.

Kubhilai Khan
Kubhilai Khan mengirimkan beberapa kali utusan ke Singasari untuk meminta Raja Kertanegara mengakui kekuasaannya. Hal itu terjadi pada tahun 1280, 1281, 1286, dan terakhir pada tahun 1289 yang dipimpin oleh Meng Ch’i. Kertanegara merasa kesal sehingga utusan itu dianiaya hingga cacat dan disuruh pulang. Utusan itu begitu tiba di negerinya menceritakan segala perlakuan Raja Kertanegara kepada Kubhilai Khan. Akibatnya, Kubhilai Khan marah sekali. Kubhilai Khan menyiapkan pasukannya untuk menghukum Kertanegara. Akan tetapi, ketika pasukan itu tiba di Jawa pada tahun 1293 Raja Kertanegara telah mangkat.

Sebenarnya, Jayakatwang sebagai raja kecil di Kediri selalu tunduk dan taat kepada Raja Kertanegara. Akan tetapi, Jayakatwang telah dihasut oleh patihnya untuk membalas kematian buyutnya (Kertajaya) yang dibunuh oleh buyut Kertanegara (Ken Arok). Di samping itu, Jayakatwang juga dibujuk oleh Arya Wiraraja dari Madura untuk memberontak terhadap Singasari agar dapat membangun kembali Kerajaan Kediri seperti dahulu. Hasutan dan bujukan itu akhirnya termakan juga oleh Jayakatwang. Oleh karena itu, Jayakatwang segera mempersiapkan sejumlah besar prajurit dan persenjataannya.

Saat yang tepat untuk menaklukkan Singasari tiba. Pada saat itu sebagian besar prajurit Singasari dikirim ke luar Jawa sehingga pertahanan di istana lemah. Selain itu, Kertanegara juga  sedang berkonflik dengan Khubilai Khan. Oleh karena itu, tepatlah saatnya untuk menyerbu Singasari. Kerajaan Singasari diserbu dari dua jurusan (utara dan selatan) sehingga tidak mampu menanggulanginya. Akhirnya, seluruh prajurit dan Raja Kertanegara gugur dalam pertempuran itu.

Kertanegara setelah gugur didharmakan sebagai Syiwa Buddha di Candi Jawi. Di Sagala, Kertanegara bersama permaisurinya diwujudkan sebagai Wairocana Locana dan di Candi Singasari dilukiskan sebagai Bairawa (Batara Kala).

C. Kehidupan Perekonomian

Tidak banyak sumber prasasti dan berita dari negeri asing yang dapat memberi keterangan secara jelas kehidupan perekonomian rakyat Singasari. Akan tetapi, berdasarkan analisis bahwa pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar Lembah Sungai Brantas dapat diduga bahwa rakyat Singasari banyak menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Keadaan itu juga didukung oleh hasil bumi yang melimpah sehingga menyebabkan Raja Kertanegara memperluas wilayah terutama tempat-tempat yang strategis untuk lalu lintas perdagangan.

Keberadaan Sungai Brantas dapat juga digunakan sebagai sarana lalu lintas perdagangan dari wilayah pedalaman dengan dunia luar. Dengan demikian, perdagangan juga menjadi andalan bagi pengembangan perekonomian Kerajaan Singasari.

Sumber :
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Kerajaan Kediri

Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibu Kota Daha


Kerajaan Panjalu terletak di sebelah selatan Sungai Brantas. Wilayahnya, meliputi Kediri, Madiun, dan daerah di sebelah baratnya. Pemerintahan di Kediri (Panjalu) dipegang oleh Sri Samarawijaya yang sebelumnya menjabat sebagai rakyan mahamenteri i hino menggantikan putri Sri Sanggramawijaya.

Sekitar tahun 1044 Masehi terjadi peperangan antara Kediri dan Jenggala. Sri Samarawijaya berhasil dikalahkan oleh Garasakan dari Jenggala. Sejak saat itu, Kerajaan Kediri (Panjalu) tidak terdengar lagi dalam sejarah untuk sementara waktu.

Perebutan kekuasaan antara Jenggala dan Kediri (Panjalu) rupanya berlangsung terus hingga tahun 1052 Masehi. Pada tahun itu Raja Mapanji Alanjung Ahyes berhasil menundukkan Kerajaan Jenggala. Akan tetapi, tampaknya baginda itu tidak lama memerintah karena pada tahun 1059 Masehi muncul seorang raja lain, yaitu Raja Samarotsaha. Raja itu berkuasa di Kerajaan Jenggala. Raja Samarotsaha adalah menantu Raja Airlangga.

Setelah pemerintahan Samarotsaha, kedua kerajaan tadi tidak ada kabar beritanya untuk waktu yang cukup lama (58 tahun). Mungkin selama itu terus- menerus terjadi perebutan kekuasaan. Baru sekitar tahun 1116, Kerajaan Kediri muncul kembali di pentas sejarah kerajaan-kerajaan Jawa Timur.

A. Bidang Politik

Setelah 58 tahun mengalami masa suram, Kerajaan Panjalu (Kediri) bangkit lagi sekitar tahun 1116. Raja yang memerintah, antara lain sebagai berikut :

1.  Rakai Sirikan Sri Bameswara
Raja Bameswara pertama adalah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Sarwwaniwaryya Wiryya Parakrama Digjayattunggadewa. Hal itu disebutkan pada Prasasti Pandlegan I yang berangka tahun 1038 Saka (1116 Masehi).

Prasasti Panumbangan
Raja Sirikan masih mengeluarkan prasasti lain, yaitu :
  • Prasasti Panumbangan berangka tahun 1042 Saka (1120 M)
  • Prasasti Geneng berangka tahun 1050 Saka (1128 M)
  • Prasasti Candi Tuban berangka tahun 1052 Saka (1130 M)
  • Prasasti Tangkilan berangka tahun 1052 Saka (1130 M).
Prasasti lainnya adalah Prasasti Karang Reja berangka tahun 1056 Saka (1136 Masehi), tetapi tidak jelas siapa yang mengeluarkannya. Apakah dikeluarkan oleh Bameswara atau Jayabaya?
Lencana kerajaan yang digunakan adalah tengkorak bertaring di atas bulan sabit yang disebut Candrakapala. Bameswara diperkirakan memerintah hingga tahun 1134 M.

2.  Raja Jayabaya
Pengganti Raja Bameswara adalah Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayottungga dewanama Jayabhayalancana. Ia memerintah pada tahun 1057 Saka (1135 M). Salah satu prasastinya yang menarik adalah Prasasti Talan berangka tahun 1508 Saka (1136 M) yang berisi pemindahan Prasasti Ripta (tahun 961 Saka) menjadi Prasasti Dinggopala oleh Raja Jayabaya. Dalam prasasti itu, ia disebutkan sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Lencana kerajaan yang dipakai adalah Narasingha, tetapi pada Prasasti Talan disebutkan pemakaian lencana Garuda Mukha. Pada Prasasti Hantang (1057 Saka) atau 1135 M dituliskan kata pangjalu jayati, artinya panjalu menang berperang atas Jenggala dan sekaligus untuk menunjukkan bahwa Jayabaya adalah pewaris takhta kerajaan yang sah dari Airlangga.

3.  Raja Sarweswara
Pengganti Raja Jayabaya ialah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardhanawatara Wijayagrajasama Singhanadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayattunggadewanama. Sarweswara memerintah tahun 1159 hingga 1169. Lencana kerajaan yang digunakan adalah Ganesha.

4.  Sri Aryyeswara
Raja Sarweswara kemudian digantikan oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryyeswara Madhusudanawatararijamukha. Masa pemerintahan Raja Sri Aryyeswara hanya sampai tahun 1181 dan digantikan oleh Sri Maharaja Sri Kroncarryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayattungga duwanama Sri Gandra.

5.  Sri Gandra
Pada masa pemerintahan Sri Gandra dikenal jabatan senapati sarwajala (laksamana laut). Dengan jabatan itu, diduga Kediri mempunyai armada laut yang kuat. Di samping itu, juga dikenal pejabat yang menggunakan nama-nama binatang, misalnya Kebo Salawah, Lembu Agra, Gajah Kuning, dan Macan Putih.

6.  Kameswara
Kameswara memerintah Kerajaan Kediri tahun 1182–1185. Kameswara bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Tri Wikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayattunggadewanama. Pada masa pemerintahan Kameswara, seni sas- tra berkembang pesat.

7. Kertajaya
Setelah Kameswara mangkat, raja yang memerintah Kediri adalah Kerta- jaya atau Srengga. Gelar Kertajaya ialah Sri Maharaja Sarweswara Triwikramataranindita Srenggalancana Digjayattunggadewanama. Kertajaya adalah raja terakhir yang memerintah Kediri. Kertajaya memerintah Kediri tahun 1185–1222.

Pada masa pemerintahannya, Kertajaya sering berselisih pendapat dengan para brahmana. Para brahmana kemudian minta perlindungan kepada Ken Arok. Kesempatan emas itu digunakan Ken Arok untuk memberontak raja. Oleh karena itu, terjadilah pertempuran hebat di Ganter. Dalam pertempuran itu, Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kertajaya. Dengan berakhirnya masa pemerintahan Kertajaya, berakhir pula masa pemerintahan Kerajaan Kediri sebagai kelanjutan Dinasti Isana yang didirikan oleh Empu Sindok.

Keadaan politik pemerintahan dan keadaan masyarakat di Kediri ini dicatat dalam berita dari Cina, yaitu dalam kitab Ling-Wai-tai-ta yang ditulis oleh Chou K’u-fei pada tahun 1178 dan pada kitab Chu-fan-chi yang disusun oleh Chauju- kua pada tahun 1225. Kitab itu melukiskan keadaan pemerintahan dan masyarakat zaman Kediri. Kitab itu menggambarkan masa pemerintahan Kediri termasuk stabil dan pergantian takhta berjalan lancar tanpa menimbulkan perang saudara. Di dalam menjalankan pemerintahannya, raja dibantu oleh tiga orang putranya dan empat pejabat kerajaan (rakryan), ditambah 300 pejabat sipil (administrasi) dan 1.000 pegawai rendahan. Prajuritnya berjumlah 30.000 orang dengan mendapat gaji dari kerajaan. Raja berpakaian sutra, memakai sepatu kulit, perhiasan emas, dan rambutnya disanggul ke atas. Jika bepergian, raja naik gajah atau kereta dengan dikawal oleh 500–700 prajurit. Pemerintah sangat memperhatikan keadaan pertanian, peternakan, dan perdagangan. Pencuri dan perampok jika tertangkap dihukum mati.

B. Bidang Sosial dan Budaya

Kondisi masyarakat Kediri sudah teratur. Penduduknya sudah memakai kain sampai di bawah lutut, rambut diurai, serta rumahnya bersih dan rapi. Dalam perkawinan, keluarga pengantin wanita menerima maskawin berupa emas. Orang-orang yang sakit memohon kesembuhan kepada dewa dan Buddha.

Perhatian raja terhadap rakyatnya sangat tinggi. Hal itu dibuktikan pada kitab Lubdaka yang berisi tentang kehidupan sosial masyarakat pada saat itu. Tinggi rendahnya martabat seseorang bukan berdasarkan pangkat dan harta bendanya, tetapi berdasarkan moral dan tingkah lakunya.

Raja juga sangat menghargai dan menghormati hak-hak rakyatnya. Akibatnya, rakyat dapat leluasa menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari. Pada zaman Kediri karya sastra berkembang pesat. Banyak karya sastra yang dihasilkan.

Pada masa pemerintahan Jayabaya, raja pernah memerintahkan kepada Empu Sedah untuk mengubah kitab Bharatayuda ke dalam bahasa Jawa Kuno. Karena tidak selesai, pekerjaan itu  dilanjutkan oleh Empu Panuluh. Dalam kitab itu, nama Jayabaya disebut beberapa kali sebagai sanjungan kepada rajanya. Kitab itu berangka tahun dalam bentuk candrasangkala, sangakuda suddha candrama (1079 Saka atau 1157 M). Selain itu, Empu Panuluh juga menulis kitab Gatutkacasraya dan Hariwangsa.

Pada masa pemerintahan Kameswara juga ditulis karya sastra, antara lain sebagai berikut:
  1. Kitab Wertasancaya, yang berisi petunjuk tentang cara membuat syair yang baik. Kitab itu ditulis oleh Empu Tan Akung.
  2. Kitab Smaradhahana, berupa kakawin yang digubah oleh Empu Dharmaja. Kitab itu berisi pujian kepada raja sebagai seorang titisan Dewa Kama. Kitab itu juga menyebutkan bahwa nama ibu kota kerajaannya adalah Dahana. 
  3. Kitab Lubdaka, ditulis oleh Empu Tan Akung. Kitab itu berisi kisah Lubdaka sebagai seorang pemburu yang mestinya masuk neraka. Karena pemujaannya yang istimewa, ia ditolong dewa dan rohnya diangkat ke surga.
Selain karya sastra tersebut, masih ada karya sastra lain yang ditulis pada zaman Kediri, antara lain sebagai berikut:
  1. Kitab Kresnayana karangan Empu Triguna yang berisi riwayat Kresna sebagai anak nakal, tetapi dikasihi setiap orang karena suka menolong dan sakti. Kresna akhirnya menikah dengan Dewi Rukmini.
  2. Kitab Samanasantaka karangan Empu Managuna yang mengisahkan Bidadari Harini yang terkena kutuk Begawan Trenawindu.
Adakalanya cerita itu dijumpai dalam bentuk relief pada suatu candi. Misalnya, cerita Kresnayana dijumpai pada relief Candi Jago bersama relief Parthayajna dan Kunjarakarna.

C. Bidang Ekonomi

Kediri merupakan kerajaan agraris dan maritim. Masyarakat yang hidup di daerah pedalaman bermata pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian di daerah pedalaman Kerajaan Kediri sangat melimpah karena didukung oleh kondisi tanah yang subur. Hasil pertanian yang melimpah memberikan kemakmuran bagi rakyat.

Masyarakat yang berada di daerah pesisir hidup dari perdagangan dan pelayaran. Pada masa itu perdagangan dan pelayaran berkembang pesat. Para pedagang Kediri sudah melakukan hubungan dagang dengan Maluku dan Sriwijaya.

Pada masa itu, mata uang yang terbuat dari emas dan campuran antara perak, timah, dan tembaga sudah digunakan. Hubungan antara daerah pedalaman dan daerah pesisir sudah berjalan cukup lancar. Sungai Brantas banyak digunakan untuk lalu lintas perdagangan antara daerah pedalaman dan daerah pesisir.


Sumber : Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Sabtu, 28 Januari 2017



PENGERTIAN TAHFIDZ QURAN


Tahfidz Al-Qur’an terdiri dari dua kata yaitu tahfidz dan Al-Qur’an. Kata tahfidz merupakan bentuk masdar ghoir mim dari kata حَفَّظَ – يُحَفِّظُ - تَحْفِيْظًا yang mempunyai arti menghafalkan. Sedangkan menurut Abdul Aziz Abdul Rauf definisi tahfidz atau menghafal adalah proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca atau mendengar. Pekerjaan apapun jika sering diulang, pasti menjadi hafal.
 Pengertian Al-Quran

sedangkan pengertian al-quran secara etimologi dan terminologi 

1.Pengertian Etimologi (bahasa).
Secara bahasa Al-Quran berasal dari bahasa Arab , yaitu qaraa-yaqrau-quraanan yang berarti bacaan. Hal itu dijelaskan sendiri oleh Al-Quran dalam Surah Al-Qiyamah ayat 17-18

Artinya : Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. QS. Al-Qiyamaah 17-18

2.Pengertian Al-Quran Terminologi (istilah).
  Sedangkan secara terminologi Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai mukjizat yang tertulis dalam lembaran-lembaran, yang diriwayatkan secara mutawattir, dan membacanya merupakan ibadah.
tetapi banyak ulama yang mendefinisikan pengertian al-quran secara terminologi
diantaranya :
a.       Menurut Manna’ Al-Qhattan :
كَلَامُ اللهِ المُنَزًّلُ عَلَي مُحَمَّدٍ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُتَعَبَدُ بِتِلَاوَتِهِ

Artinya : kitab Allah yang diturnkan kepada Nabi Muhammad SAW dan orang yang membacanya memperoleh pahala.

b.      Menurut Al-Jurjani :
هُوَ اَلْمُنَزَّلُ عَلَى الرَّسُولِ المَكْتُوبِ فِى الْمَصَاحِفِ اَلْمَنْقُولُ عَنْهُ نَقْلًا مُتَوَاتِرًا بِلَا شُبْهَةٍ

Artinya : yang diturunkan kepada Rasulullah SAW., ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawattir tanpa keraguan.

c.       Menurut kalangan pakar ushul fiqh, fiqh, dan bahasa Arab :
كَلَامُ اللهِ المُنَزَّلُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ ص.م اَلْمُعْجِزِ اَلْمُتَعَبَّدُ بِتِلَاوَتِهِ اَلْمَنْقُولُ بِالتَّوَاتُرِ اَلْمَكْتُوبِ فِى اَلْمَصَاحِفِ مِنْ اَوَّلِ سُوْرَةٍ اَلْفَاتِحَةِ اِلَى سُورَةٍ النَّاسِ

Artinya : kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad. Lafadz-lafadznya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai ibadah, diturunkan secara mutawattir, dan ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat Al-Fatihah sampai pada surat An-Nass.

Dari pengertian diatas, ada beberapa bagian yang unsur penting, yaitu :

1.      Al-Quran adalah firman Allah.
Artinya : ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). QS. An-Najm 4

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah wahyu (bisikan dalam sukma  dan isyarat yang cepat yang bersifat rahasia disampaikan oleh Allah kepada Nabi dan Rasul) yang diturunkan oleh Alla kepada nabi Muhammad SAW.

2.      Al-Quran adalah mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Tak satu pun jin dan manusia yang dapat menandinginya, meskipun mereka berkerjasama.
Artinya : Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". QS. AL-ISRAA 88

3.      Al-Quran disampaikan
secara mutawatir.
Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr 9)
Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

4.      Membaca Al-Quran bernilai ibadah.
Nabi bersabda: “Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf, miim satu huruf dan satu kebaikan nilainya 10 kali lipat” (Al-Hadist).

5.      Al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril.
Artinya : Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". QS. An-Nahl 102


Setelah melihat pengertian tahfidz/menghafal dan Al-Qur’an diatas dapat disimpulkan bahwa menghafal Al-Qur’an adalah suatu proses untuk memelihara, menjaga dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. diluar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan serta dapat menjaga dari kelupaan baik secara keseluruhan ataupun sebagiannya.

semoga artikel yang sederhana ini bisa bermanfaat untuk semua
dan sebagai tambahan ilmu untuk kita semua Aamiin ....
kalau anda suka silakan like artikel ini anda juga bisa berbagi dengan
rekan-rekan anda melalui media sosial dibawah wassalam . . .

sumber:http://bukuinsfirasi.blogspot.co.id/2014/08/pengertian-tahfidz-al-quran.html